Seperti Ini Prosesi Larung Sesaji Yadnya Kasada ke Kawah Bromo

shares

Prosesi Larung Sesaji Yadnya (M Rofiq/detikTravel)

Probolinggo - Tradisi Yadnya Kasada yang dilangsungkan pada Minggu malam kemarin (9/7) turut diwarnai oleh prosesi Larung Sesaji ke Kawah Bromo. Seperti ini ritualnya.

Perayaan Yadnya Kasada di Gunung Bromo, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur diikuti oleh ratusan, bahkan ribuan warga Tengger yang berjalan kaki sekitar 3 kilometer. Semuanya membawa sesaji dari Pura Poten Agung ke Kawah Bromo.

Mereka (Warga Tengger - red) membawa sesaji-sesaji hasil bumi dan hewan ternak yang sudah disembeleh atau yang biasa disebut ongkek. Sebelumnya hewan ternak dikumpulkan di Pura Agung yang berada sempurna di bawah kawah Gunung Bromo atau di kaldera Bromo.

Perayaan hari raya Yadnya Kasada sendiri diikuti oleh warga Hindu Tengger dari empat Kabupaten, Pasuruan, Lumajang, Malang serta Probolinggo sendiri.

Sesaji-sesaji tersebut berupa sayur-mayur serta buah-buahan. Sebelum dikorbankan, sesaji terlebih dulu didoakan oleh masing-masing dukun pandita dari desa masing-masing.

Hari raya Yadnya Kasada berawal dari dongeng rakyat Suku Tengger yang mengkisahkan Roro Anteng dan Joko Seger. Keduanya yakni pasangan suami istri. Joko Seger merupakan anak insan yang berwibawa dan berbudi luhur, sedangkan Roro Anteng merupakan titisan dewi. Pasangan suami istri tersebut lama tak mempunyai keturunan.

Tradisi ini dilakukan semenjak malam hingga subuh (M Rofiq/detikTravel)Tradisi ini dilakukan semenjak malam hingga subuh (M Rofiq/detikTravel)

Sebagai bentuk kehormatan, warga Tengger mengorbankan hasil bumi ke kawah Gunung Bromo pada bulan Kasada kalender Suku Tengger. Tujuannya supaya warga tentram tenang dan hasil pertanian mampu melimpah. Sebagai rangkaian upacara tersebut, juga dikukuhkan dukun untuk memimpin hari raya Kasada untuk tahun berikutnya.

Namun pada ketika jalannya ritual, cuaca esktrim terjadi di wilayah Bromo. Khususnya di sekitar pura. Hanya tak mengurangi kekhidmatan ritual. Di daerah Pura Poten Agung, suhu udara kisaran 2 hingga 5 derajat Celsius dengan jarak pandang tidak hingga 10 meter.

Dessy, salah satu wisatawan dari Bandung, mengaku sangat kagum akan budaya warga Suku Tengger. Ia sendiri gres pertama kali mengunjungi Gunung Bromo.

"Liburan dengar Kasada itu hari rayanya Hindu Tengger di Bromo. Saya sengaja ke sini ingin melihat ritual Kasada," ujarya.

Menurut Supeno, tokoh masyarakat Tengger dari Desa Pandansari, Kecamatan Sumber, kisah mbok Dewi Roro Anteng dan Joko Seger punya 25 keturunan. Anak bungsu Dewa Kusuma dipersembahkan ke Kawah Bromo, dan tiap tahun keturunannya wajib melempar palawija dan makanan ke jurang kawah.

"Kasada bulan purnama tanggal 14 dan 15, mintanya anak Dewi Roro Anteng dan Joko Sengger supaya hasil tandur dan ternak disembahkan ke anak bungsu namanya Dewa Kusuma, supaya anak cucunya supaya tandur turuhnya supaya umat atau anak cucu di beri kesuburan dan keberkahan," terperinci Supeno.

Akhirnya sempurna pukul 5 pagi, atau sebelum matahari terbit tadi, sesaji-sesaji hasil bumi dibawa ke kawah Gunung Bromo dan dilarung setelahnya.

Related Posts

0 komentar:

Posting Komentar