Tren Backpacker Mengemis Demi Hidup
04.09 |

Bangkok - Backpacker sejatinya yaitu gaya traveling ala bujet minim. Mirisnya, tak sedikit traveler backpacker yang malah mengemis di negara orang demi bertahan hidup.
Bagi kau yang traveling ke sejumlah negara di Asia Pasifik ibarat Singapura, Bangkok atau Hong Kong, mungkin pernah melihat turis barat yang meminta-minta uang di sudut kota atau keramaian.
Walau dominan turis itu datang dari negara maju yang baik secara finansial, nyatanya mereka 'terpaksa' harus mencari komplemen uang dengan banyak sekali cara di negara orang. Tak jauh beda dengan kaum Homeless, traveler model ini disebut sebagai Beg-packers.
Secara pengertian, 'beg-packers' yaitu plesetan dari gabungan kata Beggar (pengemis - red) dan Backpackers. Secara teknis, Beg-packers merujuk pada traveler barat yang bepergian dengan bujet di bawah standar dan berakhir mengemis di destinasi tujuan demi kelangsungan acara traveling. Antara pelit atau nekat.
Dikumpulkan detikTravel dari banyak sekali sumber, Kamis (3/8/2017) eksistensi para beg-packers ini pun semakin sering dijumpai di sejumlah negara di Asia Tenggara ibarat diberitakan media News Australia.
Biasanya para Beg-packers ini dengan terang-terangan meminta uang dari masyarakat lokal sampai traveler yang melintas. Ada yang cuma modal kertas bertuliskan spidol, ada juga yang mengamen dengan alat musik listrik.
Tujuannya pun cuma satu, mengumpulkan uang untuk membiayai perjalanan mereka berikutnya. Segala cara pun dihalalkan, termasuk menjual barang sampai mengemis.
Tentunya hal itu menjadi sesuatu yang kontras, mengingat traveling mampu dikategorikan sebagai suatu acara yang mungkin cukup mewah di sejumlah negara berkembang. Namun lain halnya di negara maju.
Padahal, sejumlah negara di Asia Tenggara juga memberlakukan aturan ketat di imigrasi sampai syarat bekerja lewat working visa. Siapa pun yang masuk ke suatu negara sebagai turis, tentu tidak diperbolehkan bekerja atau mencari uang di negara tersebut.
Contohnya ibarat di Singapura, salah satu negara yang mulai menjadi tujuan para kaum Beg-packers. Liburan ke Singapura, jangan heran bila Anda melihat turis abnormal yang mengamen sampai mencari uang dengan menjual kartu pos dan lainnya. Lantas eksistensi mereka juga mengundang reaksi dari masyarakat setempat.
"Ini yaitu kali pertama saya melihat hal ibarat itu, dan itu membuat saya bingung," ujar masyarakat lokal Singapura, Maisarah Abu Samah pada media France 24 Observers.
Sementara masyarakat lokal sibuk bekerja untuk membeli makanan atau membayar uang sekolah, para kaum Beg-packers ini malah mengemis uang semoga mampu traveling. Kaprikornus mana yang lebih patut dikasihani?
Tidak hanya di Singapura, Bangkok di Thailand pun menjadi salah satu destinasi favorit para Beg-packers. Salah satu pengguna Twitter dengan akun @ImSoloTraveller juga sempat memposting beberapa foto beg-packers yang ia temui di jalanan.
Namun tidak hanya memposting foto, caption bernada usikan juga tertulis di bawah fotonya. Katanya kurang lebih ibarat ini, turis abnormal miskin, cuma ada di #Bangkok #Thailand.
Selain mengemis di jalanan, tak sedikit juga para Beg-packers yang mencari komplemen pundi-pundi uang dengan mengajar Bahasa Inggris dan menjual karya seni dadakan. Semua dilakukan untuk bertahan hidup dan semoga mampu terus traveling.
Menindaklanjuti fenomena yang tengah berkembang itu, Pemerintah Thailand pun menerapkan aturan gres bagi pari wisatawan. Barang siapa tidak dapat menawarkan jumlah uang minimal (20 ribu Baht atau Rp 7,9 juta) di imigrasi, tidak akan diperbolehkan masuk ke Thailand.
0 komentar:
Posting Komentar