Anti Sampah Ala Yogya

shares

Foto: Anak-anak memasukkan sampah plastik ke dalam botol, yang nantinya mampu menjadi ecobricks (dok Josh Handani/Rumah Inspirasi Jogja)

Yogyakarta - Liburan di DI Yogyakarta, sempatkan mampir ke Rumah Inspirasi Jogja. Kamu mampu berguru bagaimana meminimalisir sampah dengan cara menyenangkan.

Membuang sampah sembarangan memang dilarang, namun terkadang masih banyak orang yang tak mengindahkan larangan tersebut. Padahal jikalau sampah dibuang pada tempatnya tentunya lingkungan jadi lebih bersih dan nyaman.

Sampah-sampah plastik juga mampu di daur ulang, dikumpulkan dan dikelola menjadi benda yang lebih bermanfaat. Nah, soal pengelolaan sampah ini, traveler mampu berguru dari Rumah Inspirasi Jogja di Kalipucang, Bantul, DI Yogyakarta.

Filiana Mila Dewi dan Josh Handani, founder dan co founder Rumah Inspirasi Jogja (dok Josh Handani/Rumah Inspirasi Jogja)Filiana Mila Dewi dan Josh Handani, founder dan co founder Rumah Inspirasi Jogja (dok Josh Handani/Rumah Inspirasi Jogja)
Rumah Inspirasi Jogja didirikan oleh Josh Handani bersama Filiana Mila Dewi. Kehadiran Rumah Inspirasi Jogja yang dikelola Josh dan keluarga semenjak bertahun-tahun lalu ini berawal dari keprihatinan dikala melihat banyak orang membuang sampah sembarangan di desa sekitar Kasongan.

"Ketika saya mulai pindah ke desa akrab Kasongan itu prihatin dikala melihat ada orang kok buang sampah di kali. Di jalan desa banyak minum es teh dibuang begitu saja," kata Josh dalam wawancara dengan detikTravel via telepon, Rabu (26/7/2017).

"Kita gerakan satu keluarga yang merasa bahwa ini duduk perkara nih sampah ini. Yaudah kita pakai nama Rumah Inspirasi Jogja alasannya yakni segala ide bagus asalnya dari rumah," imbuhnya.

Josh awalnya mengkampanyekan istilah Jabusamsem alias Jangan Buang Sampah Sembarangan. Anak-anak setempat diajak untuk berguru mencintai lingkungan, dimulai dari membuang sampah pada tempatnya.

(dok Josh Handani/Rumah Inspirasi Jogja)(dok Josh Handani/Rumah Inspirasi Jogja)
"Kita lebih nyentuh ke anak-anak, alasannya yakni kami percaya untuk mengubah masa depan kita dengan cara mempersiapkan anak-anak. Kemudian muncul Jabusamsem, Jabusamsem ya, sambil senyum, itu menjadi satu gerakan, menjadi istilah yg ramah," terperinci Josh.

Rumah Inspirasi Jogja juga mengadakan kursus bahasa Inggris dengan pengajar volunteer dari banyak sekali negara. Kursus ini dapat diikuti belum dewasa hingga dewasa. Tak perlu bayar pakai uang, tapi pakai sampah.

"Kami bikin kursus bahasa Inggris gratis semua. Waktu awal dulu dateng dengan membayar pakai sampah," ucapnya.

Josh mengatakan bahwa kampanye Jabusamsem sendiri terus berkembang. Kini Rumah Inspirasi Jogja tengah mengarah ke gerakan minimum waste, mengurangi sampah yang diawali dari keluarga Josh sendiri. Hal ini diharap mampu turut menginspirasi banyak orang untuk mengurangi sampah dan nantinya menuju ke gerakan zero waste.

"Dari keluarga kami dulu, kami tidak membuang sampah, kita kelola semua. Kita menginisiasi semoga sampah berhenti di rumah, alasannya yakni kita lihat TPA (tempat pembuangan sampah) bermasalah, orang masih memproduksi sampah, TPA mampu kurang," tutur Josh.

Josh dan keluarganya telah mulai mengurangi sampah mulai dari hal-hal kecil. Seperti belanja dengan membawa tas sendiri, bahkan membeli lauk pun menggunakan rantang sendiri. Memang diperlukan janji yang kuat, tapi yang penting yakni berani memulainya terlebih dahulu.

"Jadi minimum waste, kita bertanggung jawab akan sampah sendiri. Itu yang kita inisiasikan," katanya.

Semesta (9), anak Josh sedang memasukkan sampah plastik yang tidak laku dijual ke dalam botol (dok Josh Handani/Rumah Inspirasi Jogja)Semesta (9), anak Josh sedang memasukkan sampah plastik yang tidak laku dijual ke dalam botol (dok Josh Handani/Rumah Inspirasi Jogja)
Kemudian Rumah Inspirasi Jogja pun mulai menjalankan Proyek Botol. Proyek ini sudah berjalan sekitar 4 tahun belakangan.

Botol bekas 600 ml dimasukkan sampah plastik yang tidak laku dijual, misalnya bekas bungkus kopi dan permen. Sampah-sampah itu dipadatkan ke dalam botol dengan bilah bambu.

"Yang 600 ml mampu muat hingga 100 kresek. Padet dan itu jadi ecobricks, kerikil bata ramah lingkungan," tutur pria yang juga menginisiasi Rumah Guide Indonesia ini.

Sampah selama 3 tahunan yang dikelola sendiri menjadi ecobricks (dok Josh Handani/Rumah Inspirasi Jogja)Sampah selama 3 tahunan yang dikelola sendiri menjadi ecobricks (dok Josh Handani/Rumah Inspirasi Jogja)
"Kami melaksanakan Proyek Botol itu pemicunya alasannya yakni dulu banyak tetangga kami yang memperabukan sampah. Yang plastik dibakar jadi dioksin pemicu kanker," tambahnya.

Dengan keluarganya yang sudah eksklusif memulai proyek ini, Josh berharap warga lainnya pun mampu juga ikutan mengurangi sampah dan memulai Proyek Botol. Ia pun telah banyak diundang untuk menjadi pembicara terkait pengelolaan sampah dengan kreatif.

Sosialisasi ihwal Proyek Botol, minimum waste lifestyle menuju Zero Waste lifestyle di Smp Negeri 1 Pandak Bantul (dok Josh Handani/Rumah Inspirasi Jogja)Sosialisasi ihwal Proyek Botol, minimum waste lifestyle menuju Zero Waste lifestyle di Smp Negeri 1 Pandak Bantul (dok Josh Handani/Rumah Inspirasi Jogja)
Tetangganya pun sudah banyak yang mengurangi memperabukan sampah plastik. Ada pula yang sudah memulai Proyek Botol. Menurut Josh, perubahan memang dimulai dari langkah kecil, dampaknya berkelanjutan. Lebih baik dibanding perubahan drastis yang tiba-tiba, namun sifatnya hanya sementara.

"Kita berkonsep lewat small sustainable changes. Kalau dratis tapi sekali ya buat apa," ucap Josh yang memiliki homestay unik dari bambu dan botol itu.

Sampah dari rumah keluarga Josh dan sampah tamu yang tinggal di FiliStay/Bamboo Bottle Homestay tidak dibuang, tapi dikelola menjadi ecobricks (dok Josh Handani/Rumah Inspirasi Jogja)Sampah dari rumah keluarga Josh dan sampah tamu yang tinggal di FiliStay/Bamboo Bottle Homestay tidak dibuang, tapi dikelola menjadi ecobricks (dok Josh Handani/Rumah Inspirasi Jogja)
Josh pun masih mempunyai dua mimpi besar dan diharap mampu terwujud di masa depan. Yang pertama yakni membuat pionir desa zero waste, yaitu desa yang bebas limbah.

"Itu satu desa nggak ada sampah keluar dari desa. Tapi itu perlu fundraising, alasannya yakni selama ini Rumah Inspirasi Jogja dari personal funding. Bayangkan kalau satu desa tidak keluar sampahnya, tidak ada duduk perkara lagi di TPA. Itu mampu dan kita sudah punya konsepnya," jelasnya yakin.

Kemudian Josh juga bermimpi untuk membuat sebuah toko dengan konsep refill. Seperti apa?

"Sampo refill, sabun refill, makanan semuanya refill, bawa (wadah) sendiri. Kalau nggak refill ia harus bayar tempatnya, mungkin 2 kali mungkin, 3 kali (berlipat)," kata Josh.

Rumah Inspirasi Jogja syuting iklan layanan masyarakat ihwal sampah (dok Josh Handani/Rumah Inspirasi Jogja)Rumah Inspirasi Jogja syuting iklan layanan masyarakat ihwal sampah (dok Josh Handani/Rumah Inspirasi Jogja) Foto: undefined

Related Posts

0 komentar:

Posting Komentar